Teringat cerita nenek: bahwa dalam wayang kulit cerita yang jarang(bahkan nyaris tidak pernah) di mainkan adalah "Bronto yudho(mahabarata)" karena bisa menimbulkan efek negatif, sehingga jarang dimainkan diacara Mantenan/sunatan..mungkin cerita lahirnnya Gatot katja, petruk sugih, Arjuno Ngecowantah atau cerita2 yang ringan2 saja yg disajikan tujuanya menghibur&memberi cerminan pelajaran yang ditampilkan.kembali ke bronto yudho yg diceritakan oleh Nenek; saat perang itu dimulai akan tiba satu masa dimana Betoro Indro (betara Indra) melihat Karna tidak akan mati kalau dia masih memakai tameng Betara Surya, karena merasa Arjuna Masih keturunanya dia ingin memberikan kepada Pandawa kemenangan,( karena kemenangan adalah untuk yg baik dan kekalahan untuk yg buruk) kemudian datang Betoro Indro menemuikarno(Karna/putra sang fajar) dia meminta tameng Surya pada Karna untuk ditukar dengan tameng Indra yang tentu saja diberikanlah tameng itu kepada Betara Indra. disinilah awal kematian Karno(Karna) yg dalam akhir cerita Karna tertembus panah Arjuna..mendengar kabar Karna Meninggal Dewi Kunti sedih dan dia mengatakan sebuah rahasia yang di pendamnya berpuluh2-puluh tahun tidak diomongkan kepada suaminya Pandu dan anak2nya para Pandawa. Dewi Kunti berujar bahwa Karna adalah anak kandungnya dari keturunan Batara Surya maka Yudistira sangatlah kecewa karena merasa terbohongi dan berdosa karena pandawa membunuh kakak kandungnya..kemudianYudistira Bersumpah;dia berujar Bahwa Mulai sekarang Wanita tidak akan bisa menutupi sebuah rahasia selama-lamanya, hehe ada benarnya juga sebagian besar wanita tidak bisa memegang omongan yang di rahasiakan walaupun ada juga yg masih kuat pegang janji. .sangat senang bisa menyimak cerita alm.nenek dan sangat heran kenapa Nenek bisa mengerti cerita-ceriNenek bilang Kalau diUjung gunungan wayang (http://lastzie.wordpress.com/2009/05/26/gunungan/ ) selalu ada Banteng Jawa & Harimau Jawa dimana 2 hewan ini tidak akan punah sampai akhir masa dan hidup di Hutan Jawa. nah anehnya Harimau Jawa di nyatakan telah punah....NAMUN aneh tapi nyata juga, bahwa Harimau Jawa masih banyak terlihat didalam lebatnya hutan diJawa termasuk ketika gunung merapi meletus beberapa tahun yg lalu banyak warga sekitar merapi yang melihat harimau loreng turun gunung.
sangat menyenangkan bisa mendengar cerita pewayangan dari Nenek tapi yang membuat saya heran mengapa nenek begitu detail mengerti cerita pewayangan? sedangkan dia bukan seorang Dalang (piwudal lan piwulang) beliau menjawabnya simpel setiap akhir tahun di Balai Desa selalu ada selamatan Desa yang selalu menampilkan Wayang kulit dan dalangnya dulu sebelum tampil selalu mampir kerumah, dari situlah dia dapat cerita pewayangan sehingga Nenek saya nyaris hafal setiap cerita pewayangan dan tokoh-tokoh yang di lakonkan.
yang membuat cerita ini menarik (saat nenek masih ada) dia selalu bilang kalau prihatin karena di era kepala desa sekarang tidak pernah diadakan bersih desa yang menghadirkan wayang kulit sebagai pertunjukannya disetiap tahunnya.
Aneh juga saya menulis catatan ini, namun dari pada saya mengingat-ingat mending saya tuliskan di sini. hanya untuk mengingatkan saya pribadi bahwa saya seorang Jawa Dwipa suka Seni namun sulit menemukan seni itu sendiri di masa ini. merupakan sebuah tradisi mempertahankan&menuturkan cerita kepada anak cucu kita yang khususnya kepada mereka yang menginjak,hidup&berkeluarga sekaligus bekerja di tanah Jawa sebagai Jawa Dwipanes modern dimasa mendatang. semoga Orang Jawa seperti saya bisa mengerti seberapa Jawanya Saya.


No comments:
Post a Comment